MANGGIS Manggis dengan nama latinnya Garcinia mangostana L, adalah sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Kepulauan Nusantara dan Asia Tenggara. Pohon manggis bisa tumbuh hingga mencapai 7 sampai 25 meter. Buahnya juga disebut manggis, berwarna merah keunguan ketika matang, meskipun ada juga varian yang kulitnya berwarna merah atau kuning. Manggis dalam perdagangan dikenal sebagai “ratu buah”, sebagai pasangan durian, si “raja buah”. Manggis berkerabat dengan kokam, asam kandis dan asam gelugur, rempah bumbu dapur dari tradisi boga India dan Sumatera. Secara ilmiah buah manggis diklasifikasikan sebagai berikut: (i) Kerajaan: Plantae, KHASIAT MANGGIS Di Asia khususnya di Indonesia manggis belum dibudidayakan dan diolah secara optimal karena masih dianggap buah rakyat, karena kulitnya yang kebanyakan warnanya ungu kemerah-merahan kalau termakan rasanya sepet, dan menimbulkan rasa tidak enak di lidah, begitu pula buahnya manis memang rasanya namun kalau bijinya sampai tergigit dan terkunyah rasanyapun akan menjadi tidak enak, sehingga pada waktu anak-anak dahulu biasanya buah manggis hanya dijadikan mainan tebak-tebakan. Konon orang tua-tua kita di beberapa daerah dahulu banyak menggunakan buah manggis “terkadang” untuk obat, bagi mereka yang sudah tahu khasiatnya yaitu antara lain untuk obat penurun panas deman dan diaree. Namun saat sekarang, melalui kajian terkini secara sainsifik klinis dan medis telah membuktikan akan khasiat dan kelebihan manggis dengan penemuan sejenis bahan aktif di dalam manggis yang dikenali sebagai xanthone. Xanthone ialah suatu bahan kimia aktif dengan struktur yang terdiri 3 cincin dan ini yang menjadikannya manggis sangat stabil ketika berada dalam badan. Struktur ini menjadikannya sangat stabil dalam keadaan panas atau dingin. Di alam bebas terdapat lebih dari 200 jenis bahan xanthone, akan tetapi lebih dari 40 jenis xanthone terdapat dalam manggis dan ini merupakan kandungan yang terbanyak. Khasiat utama dari xanthone ialah secara spesifik memiliki sifat anti oksidan, yaitu menghambat proses oksidasi atau proses penuaan tubuh/ sel tubuh. Bahan aktif Xanthone akan melindungi sel dan mengurangi kerusakan pada sel akibat radikal bebas, selain bermanfaat sebagai anti-oksidan, manggis juga berkhasiat sebagai antibakteri, anti-kanker, dan anti-radang. Bagian lain yang sangat bermanfaat adalah kulit buahnya (pericarp/ rind). Kulit manggis menghasilkan warna merah keunguan, dan amat sulit dibersihkan apabila nempel di kain, karena ia mengandung tanin, resin, dan crystallizable mangostine (C20H22O5) yang mudah larut dalam alkohol atau ether, namun tidak larut dalam air. Kulit manggis amat berkhasiat bagi penderita rematik untuk membuang asam ureat dalam tubuh yang menyebabkan reumatik/ gout. Cara penggunaan yang sangat sederhana dan tradisional untuk membuang asam ureat tersebut, adalah sebagai berikut: 1. Ambil Kulit buah manggis iris kecil kemudian jemur sampai kering PENELITIAN SAINS DAN BEBERAPA PENDAPAT PARA AKHLI Yang paling utama dari manggis adalah kulitnya, sebab dalam kulitnya terdapat antioksidan yang merupakan kunci utama dalam mencegah penyakit. Menurut Dr. Sam Walters, seorang master dalam bidang biologi sain dengan spesialisasi nutrisi manusia, penelitian badan-badan pengobatan di dunia menunjukkan bahwa manggis secara langsung menyembuhkan berbagai penyakit. Penelitian terbaru menemukan bahwa satu dari 4 rakyat Amerika Serikat mengidap kanker, dan 1 dari 5 orang akan meninggal dunia pada usia dini. Solusi terbaik adalah dengan pencegahan, mereka merawat banyak pengidap kanker dan mendetoksifikasi logam berat dengan manggis. Kulitnya yang mengandung Xanthone penyembuh kanker payudara, kanke paru-paru, kanker perut,leukemia, dll. Zaman sekarang, kita sudah banyak terkontaminasi oleh bahan-bahan kimiawi, bahan polutan dan bahan tiruan, dan zat xanthone ini dapat menangkap radikal bebas dan mencegah kerusakan sel sehingga proses degenerasi sel terhambat. Menurut Dr. Ir. Raffi Paramawati (Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian), radikal bebas masuk melalui makanan yang kita konsumsi dan merupakan penyebab utama penyakit jantung, stroke, kanker,dsbnya. Antioksidan yang bernama Xanthone ini dalam manggis kadarnya bisa mencapai 123,97 mg per ml. Dengan mengkonsumsi manggis secara rutin membuat awet muda karena antioksi dan super yang berfungsi menjaga serta memperbaiki sel-sel tubuh kita yang rusak dan menjadi lebih baik sebab manggis membantu menghancurkan semua penyakit dalam tubuh dan memperbaiki sistem antibodi dalam tubuh kita. Seseorang yang masih muda kalau sedang menderita penyakit degeneratif kelihatannya seperti usia 60-an tahun, tapi ketika sembuh setelah minum manggis wajahnya seperti umur 30-an tahun. Menurut Dr. Berna Elya, Peneliti Departemen Farmasi Universitas Indonesia khasiat Xanthone bukan hanya antioksidan, tetapi juga antikanker. Ekstrak kulit manggis bersifat antiproliferasi yang untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu ekstrak itu juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker. Xanthone mampu merawat bebrapa jenis kanker seperti kanker hati, pencernaan, paru-paru dll. Xanthone dalam kulit buah manggis juga ampuh mengartasi penyakit tuberculosis (TBC), asma, leukemia, antiinflamasi dan antidiare. Faedah lain manggis sebagai antijamur dan antibakteri penyebab jerawat. Menurut Dr. Berna, antikanker, antioksidan, mujarab mengatasi jantung koroner dan mengatasi HIV, semua ini hanya sebagian kecil dari khasiat kulit manggis yang sering mengisi tong sampah. Buah manggis tumbuh liar di hutan dan pegunungan dengan ketinggian pohon bias mencapai lebih dari 15 meter namun mempunyai masa berbuah yang membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun..Indonesia salah satu sentra penghasil manggis yang diekspor ke berbagai belahan dunia seperti Amerika dan Eropa.Ratu segala buah (queen of fruits), begitulah julukan orang-orang yang memahami khasiat buah manggis untuk kesehatan dan kecantikan. Rasanya yang manis, lezat dan lembut membuat buah manggis banyak disukai orang. Yang paling utama dari buah manggis adalah kulitnya, sebab dalam kulitnya terdapat antioksidan yang merupakan kunci utama dalam mencegah penyakit. Menurut Dr. Sam Walters, Master dalam bidang biologi Sain dengan spesialisasi nutrisi manusia, penelitian badan-badan pengobatan di dunia menunjukkan bahwa buah manggis secara langsung menyembuhkan berbagai penyakit.Penelitian terbaru menemukan bahwa satu dari 4 rakyat Amerika Serikat mengidap kanker, dan 1 dari 5 orang akan meninggal dunia pada usia dini. Solusi terbaik dalah pencegahan. Mereka merawat banyak pengidap kanker dan mendetoksifikasi logam berat dengan buah manggis. Kulitnya yang mengandung Xanthone penyembuh kanker payudara, kanke paru-paru, kanker perut,leukemia, dll. Mayoritas pasien yang dirawat merupakan penderita stadium 4 ke atas, mereka hanya mempunyai waktu 6-8 minggu untuk hidup. Ternyata manggis mampu mengembalikan hidup para pasien tersebut.Yang dibutuhkan tubuh adalah bahan biologis, bukan bahan kimia. Zaman sekarang, kita sudah banyak terkontaminasi oleh bahan-bahan kimiawi, bahan polutan dan bahan tiruan. Xanthone dapat menangkap radikal bebas dan mencegah kerusakan sel sehingga proses degenerasi sel terhambat.Menurut Dr. Ir. Raffi Paramawati (balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian), radikal bebas masuk melalui makanan yang kita konsumsi dan merupakan penyebab utama penyakit jantung, stroke, kanker,dsbnya. Antioksidan yang bernama Xanthone ini kadarnya mencapai 123,97 mg per ml. Konsumsi manggis secara rutin membuat awet muda karena antioksidan super yang berfungsi menjaga serta memperbaiki sel-sel tubuh kita yang rusak dan menjadi lebih baik sebab manggis membantu menghancurkan semua penyakit dalam tubuh dan memperbaiki sisten antibody dalam tubuh kita. Seseorang yang masih muda kalau sedang menderita penyakit degeneratif kelihatannya seperti usia 60-an tahaun, tapi ketika sembuh setelah minum manggis wajahnya seperti umur 30-an tahun. Menurut Dr. Berna Elya, Peneliti Departemen Farmasi Universitas Indonesia khasiat Xanthone bukan hanya antioksidan, tetapi juga antikanker. Ekstrak kulit manggis bersifat antiproliferasi yang untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu ekstrak itu juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker. Xanthone mampu merawat bebrapa jenis kanker seperti kanker hati, pencernaan, paru-paru dll. Xanthone dalam kulit manggis juga ampuh mengartasi penyakit tuberculosis (TBC), asma, leukemia, antiinflamasi dan antidiare.Faedah lain manggis sebagai antijamur dan antibakteri penyebab jerawat. Menurut Dr Berna, antikanker, antioksidan, mujarab mengatasi jantung koroner dan mengatasi HIV, semua ini hanya sebagian kecil dari khasiat kulit manggis yang mengisi tong sampah. Manggis tidak ada yang dibuang, daging buahnya, bijinya sampai kulitnya yang bias diekstrak menjadi antioksidan super. Manggis juga sangat baik untuk wanita, tetapi untuk wanita sedang hamil tidak boleh mengkonsumsiya. Untuk pencegahan, sebaiknya konsumsilah manggis setiap hari, buah berkhasiat untuk kesehatan manusia. Di antaranya stroke, kanker, diabetes, jantung, hipertensi, nyeri akibat sindroma terowongan karpal, menurunkan kadar gula darah tinggi, meringankan psoriasis, serta sederet masalah lainnya. Dengan semua keunggulan tersebut, pantas saja harga sebotol sari kulit manggis yang ukurannya tak lebih dari 300 ml bisa mencapai 200 ribu rupiah. Dan orang yang ingin sehat biasanya tak peduli harga tinggi. Di sisi lain, banyak orang yang makin tertarik untuk meraup keuntungan dari bisnis kulit manggis ini. • Kulit manggis bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami dan bahan baku obat-obatan. Kulit ini mengandung senyawa xanton yang meliputi mangostin, mangostenol, mangostinon A, mangostenon B, trapezifolixanthone, tovophyllin B, alfamangostin, beta mangostin, garcinon B, mangostanol, flavonoid epicatechin, dan gartanin. • Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak kulit manggis mempunyai aktivitas melawan sel kanker payudara, lever, dan leukemia. Juga biasa digunakan sebagai antihistamin, antiinflamasi, menekan sistem saraf pusat, dan penurun tekanan darah tinggi. (portal.cbn)sumber www.suaramedia.com Mangosteen and its Xanthones have more unbiased, independent research and scientific studies than any other botanical in history, and are considered by some experts to be one of the most important discoveries in the health and wellness industry. Modern science, anecdotal and clinical experience, and folk medicine now agree on the beneficial uses of Mangosteen. Through many Mangosteen research studies, scientists proved that this amazing fruit is helpful in preventing and possibly stopping a wide range of diseases such as cancer, diabetes, heart disease, Alzheimer's disease, arhtritis and other chronic diseases. Here's a sampling of the scientific studies on Mangosteen. Scientists in Taipei, Republic of China, suggested that the Mangosteen Xanthone derivative garcinone E has potential for use in treating certain types of cancer, after demonstrating that garcinone E has potent cytotoxic effects on liver, gastric and lung cancer cells. Japanese scientists demonstrated that six Xanthones from the pericarps of Mangosteen all displayed growth inhibitory effects on human leukemia cell lines. In a more recent study, the same group of Japanese scientists found that alpha-mangostin would be a good candidate for the prevention and treament of cancer. In another study, Mangosteen researchers in Taiwan, Republic of China, found Xanthones as potential drugs for cancer after demonstrating them to be potent anti-tumor agents. In Thailand, scientists also found that an extract from the pericarp or rind of the Mangosteen has potential for cancer chemo-prevention. In Japan, scientists at the University of the Ryukyus in Okinawa found that alpha-mangostin, a major Xanthone derivative from the Mangosteen, has potent chemopreventive effects and suggested that longer exposure to alpha-mangostin might help suppress the development of tumors. Sri Lankan scientists extracted Xanthones from the root bark, stem bark and latex or skin of Mangosteen and found that the latex of Mangosteen contains more than 75% of Xanthones that have strong antibacterial, anti-inflammatory, antifungal and other biological properties. They concluded that these highly bioactive compounds are the reason for Garcinia Mangostana's (Mangosteen) medicinal value in indigenous medicine. Japanese researchers found that alpha-mangostin from Mangosteen showed strong antibacterial activity against Staphylococcus aureus (Staph), the "superbug" with strains that have become resistant to many commonly-used antibiotics such as penicillin, flucloxacillin, oxacillin and even vancomycin. The scientists suggested that alpha-mangostin might find wide pharmaceutical use. A more recent Mangosteen research study by Thai scientists on methicillin-resistant Staphylococcus aureus showed that Mangosteen was one of the most effective medicinal plant extracts against this bacterium. Staphylococcus aureus can cause serious and life-threatening diseases such as meningitis, pneumonia and septicimia./p> Mangosteen researchers in Thailand also studied the antimycobacterial activity of alpha-mangostin, beta-mangostin and garcinone B and found that they possess strong inhibitory effects against Mycobacterium tuberculosis. Researchers in Singapore investigated the effects of Mangosteen's Xanthones on the HIV-1 virus and found that two Mangosteen Xanthones, mangostin and gamma-mangostin, demonstrated the ability to inhibit the activity of the HIV-1 protease that causes the virus to be incapable of infection. Australian scientists studied the antioxidant effects of the Xanthone, mangostin, and found that it protects the LDL from oxidative damage caused by free radicals. This helps prevent the formation of plaques that clog arteries and leads to heart disease. Japanese scientists at the Tohoku University found that gamma-mangostin, a Mangosteen Xanthone derivative, has potent anti-inflammatory effects on the brain's structural cells and suggested that it has the potential in helping with inflammatory conditions of the brain (for example, Alzheimer's disease). The scientists proved that gamma-mangostin inhibited the activities of COX-2, an enzyme that plays a major role in the development of inflammatory conditions. In a follow-up Mangosteen research study performed by the Japanese researchers from Tohoku University, the scientists suggested that gamma-mangostin would be a new useful lead compound for the development of anti-inflammatory drugs. In a study, Japanese scientists found that gamma-mangostin is a 5-HT2A receptor antagonist in the central nervous system, which indicates its potential in helping with depression and other anxiety states. Mangosteen researchers in Thailand studied various medicinal plants on their ability to inhibit the growth of acne-inducing bacteria, and found that Mangosteen had the greatest antimicrobial effect. Their research's results indicated that Garcinia Mangostana (Mangosteen) possesses a strong inhibitory effect on Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis, and noted that Mangosteen would be an interesting possibility as an alternative treatment for acne. Common Names English: mangosteen Spanish: mangostán, mangostín French: mangoustan Indonesia, Malaysia: manggis Philippines: manggustan, manggis Cambodia: mongkhut Laos: mangkhud Thailand: mangkhut Vietnam: cay mang cut Origin and Distribution Native to Southeast Asia. Cultivated throughout the tropics, but primarily in Thailand, Malaysia, the Philippines, Indonesia, Brazil, Honduras, Panama, and in the USA, in Hawaii. Botanical Synonyms Mangostana garcinia. Description Medium tree, to 30-60 feet (9-18 m) tall, with a straight trunk and a rounded, dense crown. The new bark is bright green and smooth, becoming dark brown and rough with age. All parts of the plant exude yellow latex when wounded. The thick leaves are opposite, elliptical and bright green, from 3-6 inches (8-15 cm) in length. The flowers are solitary or in pairs at the branch apex, 1-2 inches (2.5-5 cm) in diameter, with 4 pinkish white petals and 4 persistent sepals. The fruit is round, 2-3 inches (5-8 cm) in diameter, with a thick purple rind surrounding 4-8 fruit segments. The pulp is aromatic and has a delightful sweet sour taste. Usually only one enlarged segment has a viable seed, which is flattened and about 1/2 inch (1.3 cm) long. Mangosteen (Garcinia mangostana) fruit. Propagation and Culture Mangosteen is usually propagated by seed. The seeds lose viability quickly, and must be planted fresh or stored in moist peat moss, sawdust or paper. Germination occurs at 2-3 weeks, and the seedlings are somewhat slow growers. They need from 50-75% shade for the first 3-4 years, then can be grown in full sun. They are sensitive to high levels of fertilizer, and should be fertilized with a dilute fertilizer solution or an organic fertilizer. Trees can be transplanted to the field after 1-2 years, when they are a foot (30 cm) or more in height. Mangosteen can be successfully grafted onto rootstocks of Garcinia venulosa, G. xanthochymus and G. hombroniana (mangosteen grafting). Mangosteen grows best in a fertile, well drained soil with an acid pH and a high organic matter content. Rainfall or supplemental irrigation should be available throughout the year, although they tolerate brief periods of drought, and this stress may induce flowering. Mangosteen will grow from sea level to 5,000 feet (1,524 m), but suffers if temperatures drop to 40F (4C) or lower. Trees should be fertilized every 3-4 months during the first 3 years of growth, and thereafter 1-2 times per year. Mulching is recommended to add nutrients and organic matter to the soil, conserve moisture and control weeds. With good care, trees can begin to produce fruits at 6-8 years from planting. Young trees produce about 100-200 fruits per year, while a mature tree can produce from 500-1,000 or more. In Puerto Rico, mangosteen fruits from July to December. Mangosteen (Garcinia mangostana) flower. Cultivars and Related Species Although Mangosteen is apomictic, with female plants producing clonal seeds without fertilization. Thus, there is little variation in mangosteen and almost no cultivars exist. However, the Malaysian Department of Agriculture has identified two clones, 'GA1' and 'GA2', whose fruits differ in shape, weight, external color, and number of seeds. It is hypothesized that mangosteen is a polyploid that arose from natural hybridization between Garcinia hombroniana y G. malaccensis. There are over 100 Garcinia species, mostly from southeast Asia. Of these, approximately 30 have edible fruits, but the mangosteen is the most important and has the best quality fruit. Other importantGarcinia species include G. atroviridis (assam gelugur), G. hombroniana (seashore mangosteen), G. indica (kokam), G. parvifolia(assam aur aur), G. prainiana (cherapu) y G. xanthochymus (yellow mangosteen). Uses Mangosteen is primarily consumed fresh, but is also canned and used to make juices and jellies. Nutritional composition per 100 g mangosteen fruit The fruit rind is ground and used in the treatment of diarrhea and dysentery, and for skin diseases. A tea made from the leaves and bark is used to lower fever and for urinary disorders. The tree, with its glossy green leaves and symmetrical shape, is also a beautiful ornamental. More information on mangosteen Mangosteen: General Crop management An excellent publication on commercial mangosteen production from Australia. Mangosteen (Garcinia mangostana L.) From the 1987 classic by Julia Morton, "Fruits of Warm Climates". Annotated Bibliography of Mangosteen (Garcinia mangostana L.) Summaries of scientific papers on mangosteen (genetics/breeding, propagation/production, and post harvest/processing). The mangosteen tree is very slow-growing, erect, with a pyramidal crown; attains 20 to 82 ft (6-25 m) in height, has dark-brown or nearly black, flaking bark, the inner bark containing much yellow, gummy, bitter latex. The evergreen, opposite, short-stalked leaves are ovate-oblong or elliptic, leathery and thick, dark-green, slightly glossy above, yellowish-green and dull beneath; 3 1/2 to 10 in (9-25 cm) long, 1 3/4 to 4 in (4.5-10 cm) wide, with conspicuous, pale midrib. New leaves are rosy. Flowers, 1 1/2 to 2 in (4-5 cm) wide and fleshy, may be male or hermaphrodite on the same tree. The former are in clusters of 3-9 at the branch tips; there are 4 sepals and 4 ovate, thick, fleshy petals, green with red spots on the outside, yellowish-red inside, and many stamens though the aborted anthers bear no pollen. The hermaphrodite are borne singly or in pairs at the tips of young branchlets; their petals may be yellowish-green edged with red or mostly red, and are quickly shed. The fruit, capped by the prominent calyx at the stem end and with 4 to 8 triangular, flat remnants of the stigma in a rosette at the apex, is round, dark-purple to red-purple and smooth externally; 1 1/3 to 3 in (3.4-7.5 cm) in diameter. The rind is 1/4 to 3/8 in (6-10 mm) thick, red in cross-section, purplish-white on the inside. It contains bitter yellow latex and a purple, staining juice. There are 4 to 8 triangular segments of snow-white, juicy, soft flesh (actually the arils of the seeds). The fruit may be seedless or have 1 to 5 fully developed seeds, ovoid-oblong, somewhat flattened, 1 in (2.5 cm) long and 5/8 in (1.6 cm) wide, that cling to the flesh. The flesh is slightly acid and mild to distinctly acid in flavor and is acclaimed as exquisitely luscious and delicious. The place of origin of the mangosteen is unknown but is believed to be the Sunda Islands and the Moluccas; still, there are wild trees in the forests of Kemaman, Malaya. Corner suggests that the tree may have been first domesticated in Thailand, or Burma. It is much cultivated in Thailand–where there were 9,700 acres (4,000 ha) in 1965–also in Kampuchea, southern Vietnam and Burma, throughout Malaya and Singapore. The tree was planted in Ceylon about 1800 and in India in 1881. There it succeeds in 4 limited areas–the Nilgiri Hills, the Tinnevelly district of southern Madras, the Kanya-kumani district at the southernmost tip of the Madras peninsula, and in Kerala State in southwestern India. The tree is fairly common only in the provinces of Mindanao and Sulu (or Jolo) in the Philippines. It is rare in Queensland, where it has been tried many times since 1854, and poorly represented in tropical Africa (Zanzibar, Ghana, Gabon and Liberia). There were fruiting trees in greenhouses in England in 1855. The mangosteen was introduced into Trinidad from the Royal Botanic Garden at Kew, England, between 1850 and 1860 and the first fruit was borne in 1875. It reached the Panama Canal Zone and Puerto Rico in 1903 but there are only a few trees in these areas, in Jamaica, Dominica and Cuba, and some scattered around other parts of the West Indies. The United States Department of Agriculture received seeds from Java in 1906 (S.P.I. #17146). A large test block of productive trees has been maintained at the Lancetilla Experimental Station at Tela, Honduras, for many years. Quite a few trees distributed by the United Fruit Company long ago have done well on the Atlantic coast of Guatemala. In 1924, Dr. Wilson Popenoe saw the mangosteen growing at one site in Ecuador. In 1939, 15,000 seeds were distributed by the Canal Zone Experiment Gardens to many areas of tropical America. It is probable that only a relatively few seedlings survived. It is known that many die during the first year. Dr. Victor Patiño has observed flourishing mangosteen trees at the site of an old mining settlement in Mariquita, Colombia, in the Magdalena Valley and the fruits are sold on local markets. Dierberger Agricola Ltda., of Sao Paulo, included the mangosteen in their nursery catalog in 1949. Despite early trials in Hawaii, the tree has not become well acclimatized and is still rare in those islands. Neither has it been successful in California. It encounters very unfavorable soil and climate in Florida. Some plants have been grown for a time in containers in greenhouses. One tree in a very protected coastal location and special soil lived to produce a single fruit and then succumbed to winter cold. Despite the oft-repeated Old World enthusiasm for this fruit, it is not always viewed as worth the trouble to produce. In Jamaica, it is regarded as nice but overrated; not comparable to a good field-ripe pineapple or a choice mango. According to Corner, the fruit from seedling trees is fairly uniform; only one distinct variation is known and that is in the Sulu Islands. The fruit is larger, the rind thicker than normal, and the flesh more acid; the flavor more pronounced. In North Borneo, a seemingly wild form has only 4 carpels, each containing a fully-developed seed, and this is probably not unique. The mangosteen is ultra-tropical. It cannot tolerate temperatures below 40º F (4.44º C), nor above 100º F (37.78º C). Nursery seedlings are killed at 45º F (7.22º C). It is limited in Malaya to elevations below 1,500 ft (450 m). In Madras it grows from 250 to 5,000 ft (76-1,500 m) above sea-level. Attempts to establish it north of 200 latitude have all failed. It ordinarily requires high atmospheric humidity and an annual rainfall of at least 50 in (127 cm), and no long periods of drought. In Dominica, mangosteens growing in an area having 80 in (200 cm) of rain yearly required special care, but those in another locality with 105 in (255 cm) and soil with better moisture- holding capacity, flourished. The tree is not adapted to limestone and does best in deep, rich organic soil, especially sandy loam or laterite. In India, the most productive specimens are on clay containing much coarse material and a little silt. Sandy alluvial soils are unsuitable and sand low in humus contributes to low yields. The tree needs good drainage and the water table ought to be about 6 ft (1.8 m) below ground level. However, in the Canal Zone, productive mangosteen groves have been established where it is too wet for other fruit trees–in swamps requiring drainage ditches between rows and in situations where the roots were bathed with flowing water most of the year, in spite of the fact that standing water in nursery beds will kill seedlings. The mangosteen must be sheltered from strong winds and salt spray, as well as saline soil or water. Technically, the so-called "seeds" are not true seeds but adventitious embryos, or hypocotyl tubercles, inasmuch as there has been no sexual fertilization. When growth begins, a shoot emerges from one end of the seed and a root from the other end. But this root is short-lived and is replaced by roots which develop at the base of the shoot. The process of reproduction being vegetative, there is naturally little variation in the resulting trees and their fruits. Some of the seeds are polyembryonic, producing more than one shoot. The individual nucellar embryos can be separated, if desired, before planting. Inasmuch as the percentage of germination is directly related to the weight of the seed, only plump, fully developed seeds should be chosen for planting. Even these will lose viability in 5 days after removal from the fruit, though they are viable for 3 to 5 weeks in the fruit. Seeds packed in lightly dampened peat moss, sphagnum moss or coconut fiber in airtight containers have remained viable for 3 months. Only 22% germination has been realized in seeds packed in ground charcoal for 15 days. Soaking in water for 24 hours expedites and enhances the rate of germination. Generally, sprouting occurs in 20 to 22 days and is complete in 43 days. Because of the long, delicate taproot and poor lateral root development, transplanting is notoriously difficult. It must not be attempted after the plants reach 2 ft (60 cm). At that time the depth of the taproot may exceed that height. There is greater seedling survival if seeds are planted directly in the nursery row than if first grown in containers and then transplanted to the nursery. The nursery soil should be 3 ft (1 m) deep, at least. The young plants take 2 years or more to reach a height of 12 in (30 cm), when they can be taken up with a deep ball of earth and set out. Fruiting may take place in 7 to 9 years from planting but usually not for 10 or even 20 years. Conventional vegetative propagation of the mangosteen is difficult. Various methods of grafting have failed. Cuttings and air-layers, with or without growth-promoting chemicals, usually fail to root or result in deformed, short-lived plants. Inarching on different rootstocks has appeared promising at first but later incompatibility has been evident with all except G. xanthochymusHook. f. (G tinctoria Dunn.) or G. lateriflora Bl., now commonly employed in the Philippines. In Florida, approach-grafting has succeeded only by planting a seed of G. xanthochymus about 1 1/4 in (3 cm) from the base of a mangosteen seedling in a container and, when the stem of theG. xanthochymus seedling has become 1/8 in (3 mm) thick, joining it onto the 3/16 to 1/4 in (5-6 mm) thick stem of the mangosteen at a point about 4 in (10 cm) above the soil. When the graft has healed, the G. xanthochymus seedling is beheaded. The mangosteen will make good progress having both root systems to grow on, while the G. xanthochymus rootstock will develop very little. A spacing of 35 to 40 ft (10.7-12 m) is recommended. Planting is preferably done at the beginning of the rainy season. Pits 4 x 4 x 4 1/2 ft (1.2 x l.2 x l.3 m) are prepared at least 30 days in advance, enriched with organic matter and topsoil and left to weather. The young tree is put in place very carefully so as not to injure the root and given a heavy watering. Partial shading with palm fronds or by other means should be maintained for 3 to 5 years. Indian growers give each tree regular feeding with well-rotted manure–100 to 200 lbs (45-90 kg)–and peanut meal–10 to 15 lbs (4.5-6.8 kg) total, per year. Some of the most fruitful mangosteen trees are growing on the banks of streams, lakes, ponds or canals where the roots are almost constantly wet. However, dry weather just before blooming time and during flowering induces a good fruit-set. Where a moist planting site is not available, irrigation ditches should be dug to make it possible to maintain an adequate water supply and the trees are irrigated almost daily during the dry season. In Malaya and Ceylon, it is a common practice to spread a mulch of coconut husks or fronds to retain moisture. A 16-in (40-cm) mulch of grass restored trees that had begun dehydrating in Liberia. It has been suggested that small inner branches be pruned from old, unproductive trees to stimulate bearing. In Thailand, the tree is said to take 12 to 20 years to fruit. In Panama and Puerto Rico trees grown from large seed and given good culture have borne in six years. At low altitudes in Ceylon the fruit ripens from May to July; at higher elevations, in July and August or August and September. In India, there are 2 distinct fruiting seasons, one in the monsoon period (July-October) and another from April through June. Puerto Rican trees in full sun fruit in July and August; shaded trees, in November and December. Cropping is irregular and the yield varies from tree to tree and from season to season. The first crop may be 200 to 300 fruits. Average yield of a full-grown tree is about 500 fruits. The yield steadily increases up to the 30th year of bearing when crops of 1,000 to 2,000 fruits may be obtained. In Madras, individual trees between the ages of 20 and 45 years have borne 2,000 to 3,000 fruits. Productivity gradually declines thereafter, though the tree will still be fruiting at 100 years of age. Ripeness is gauged by the full development of color and slight softening. Picking may be done when the fruits are slightly underripe but they must be fully mature (developed) or they will not ripen after picking. The fruits must be harvested by hand from ladders or by means of a cutting pole and not be allowed to fall. In dry, warm, closed storage, mangosteens can be held 20 to 25 days. Longer periods cause the outer skin to toughen and the rind to become rubbery; later, the rind hardens and becomes difficult to open and the flesh turns dry. Ripe mangosteens keep well for 3 to 4 weeks in storage at 40º to 55º F (4.44º-12.78º C). Trials in India have shown that optimum conditions for cold storage are temperatures of 39º to 42º F (3.89º-5.56º C) and relative humidity of 85 to 90%, which maintain quality for 49 days. It is recommended that the fruits be wrapped in tissue paper and packed 25-to-the-box in light wooden crates with excelsior padding. Fruits picked slightly unripe have been shipped from Burma to the United Kingdom at 50º to 55º F (10º-12.78º C). From 1927 to 1929, trial shipments were made from Java to Holland at 37.4º F (approximately 2.38º C) and the fruits kept in good condition for 24 days. Few pests have been reported. A leaf-eating caterpillar in India may perhaps be the same as that which attacks new shoots in the Philippines and which has been identified as Orgyra sp. of the tussock moth family, Lymantridae. A small ant, Myrnelachista ramulorum, in Puerto Rico, colonizes the tree, tunnels into the trunk and branches, and damages the new growth. Mites sometimes deface the fruits with small bites and scratches. Fully ripe fruits are attacked by monkeys, bats and rats in Asia. In Puerto Rico, thread blight caused by the fungus, Pellicularia koleroga, is often seen on branchlets, foliage and fruits of trees in shaded, humid areas. The fruits may become coated with webbing and ruined. In Malaya, the fungus, Zignoella garcineae, gives rise to "canker"–tuberous growths on the branches, causing a fatal dying-back of foliage, branches and eventually the entire tree. Breakdown in storage is caused by the fungi Diplodia gossypina, Pestalotia sp.,Phomopsis sp., Gloeosporium sp., and Rhizopus nigricans. A major physiological problem called "gamboge" is evidenced by the oozing of latex onto the outer surface of the fruits and on the branches during periods of heavy and continuous rains. It does not affect eating quality. Fruit-cracking may occur because of excessive absorption of moisture. In cracked fruits the flesh will be swollen and mushy. Bruising caused by the force of storms may be an important factor in both of these abnormalities. Fruits exposed to strong sun may also exude latex. Mangosteens produced in Honduras often have crystal-like "stones" in the flesh and they may render the fruit completely inedible. To select the best table fruits, choose those with the highest number of stigma lobes at the apex, for these have the highest number of fleshy segments and accordingly the fewest seeds. The numbers always correspond. Mangosteens are usually eaten fresh as dessert. One need only hold the fruit with the stem-end downward, take a sharp knife and cut around the middle completely through the rind, and lift off the top half, which leaves the fleshy segments exposed in the colorful "cup"–the bottom half of the rind. The segments are lifted out by fork. The fleshy segments are sometimes canned, but they are said to lose their delicate flavor in canning, especially if pasteurized for as much as 10 minutes. Tests have shown that it is best to use a 40% sirup and sterilize for only 5 minutes. The more acid fruits are best for preserving. To make jam, in Malaya, seedless segments are boiled with an equal amount of sugar and a few cloves for 15 to 20 minutes and then put into glass jars. In the Philippines, a preserve is made by simply boiling the segments in brown sugar, and the seeds may be included to enrich the flavor. The seeds are sometimes eaten alone after boiling or roasting. The rind is rich in pectin. After treatment with 6% sodium chloride to eliminate astringency, the rind is made into a purplish jelly. *Minimum/maximum values from analyses made in the Philippines and Washington, D.C. Phytin (an organic phosphorus compound) constitutes up to 0.68% on a dry-weight basis. The flesh amounts to 31% of the whole fruit. Mangosteen twigs are used as chewsticks in Ghana. The fruit rind contains 7 to 14% catechin tannin and rosin, and is used for tanning leather in China. It also yields a black dye. Wood: In Thailand, all non-bearing trees are felled, so the wood is available but usually only in small dimensions. It is dark-brown, heavy, almost sinks in water, and is moderately durable. It has been used to make handles for spears, also rice pounders, and is employed in construction and cabinetwork. Medicinal Uses: Dried fruits are shipped from Singapore to Calcutta and to China for medicinal use. The sliced and dried rind is powdered and administered to overcome dysentery. Made into an ointment, it is applied on eczema and other skin disorders. The rind decoction is taken to relieve diarrhea and cystitis, gonorrhea and gleet and is applied externally as an astringent lotion. A portion of the rind is steeped in water overnight and the infusion given as a remedy for chronic diarrhea in adults and children. Filipinos employ a decoction of the leaves and bark as a febrifuge and to treat thrush, diarrhea, dysentery and urinary disorders. In Malaya, an infusion of the leaves, combined with unripe banana and a little benzoin is applied to the wound of circumcision. A root decoction is taken to regulate menstruation. A bark extract called "amibiasine", has been marketed for the treatment of amoebic dysentery. The rind of partially ripe fruits yields a polyhydroxy-xanthone derivative termed mangostin, also ß-mangostin. That of fully ripe fruits contains the xanthones, gartanin, 8-disoxygartanin, and normangostin. A derivative of mangostin, mangostin-e, 6-di-O-glucoside, is a central nervous system depressant and causes a rise in blood pressure.manggis dan khasiatnya
(ii) Divisi: Magnoliophyta,
(iii) Kelas: Magnoliopsida,
(iv) Ordo: Malpighiales,
(v) Famili: Clusiaceae,
(vi) Spesies: G. Mangostana,dan
(vii) Nama binomial/ latin: Garcinia mangostana L
2. Ambil 1 gelas air panas, celupkan 2-3 iris kulit buah manggis kering tadi.
3. Minum ramuan setelah hangat dan warna air jadi ungu.Buah Manggis Berkhasiat Untuk Kesehatan Dan Kecantikan
Khasiat Pengobatan Di Balik Kulit Manggis
Ketika mengarungi dunia maya, ia menemukan ada banyak reklame produk suplemen yang berbahan kulit manggis. Dipromosikan bahwa minuman sari kulit manggis itu mengandung antioksidan tinggi, sehingga ampuh menangkal radikal bebas dan penuaan, serta meningkatkan kekebalan tubuh.
Dinyatakan pula bahwa keajaiban sari kulit manggis ini dapat meringankan sekitar 70-an macam gangguan kesehatan.
Diburu banyak peminat
Mereka yang biasa mengutak-atik atau mendalami tanaman obat (herba) biasanya sudah mengenal dan memanfaatkan tanaman manggis, terutama buah dan daunnya, untuk diolah menjadi obat alami. Namun, soal manfaat kulit manggis, baru belakangan ini "naik daun". Warna kulit manggis yang ungu diyakini kaya akan zat antioksidan kuat.
Seorang teman yang tinggal di Jerman juga mengatakan bahwa di negara itu khasiat kulit manggis sedang diperbincangkan. Banyak orang kini sibuk mencari hasil riset maupun kajian ilmiah tentang kulit manggis dan kemudian berencana membuat ekstrak kulit manggis yang memiliki nilai jual tinggi.
Di dalam negeri, segelintir orang mulai berminat berbisnis maupun mencoba beralih profesi menjadi petani buah manggis. Alasannya sama, tak terlalu peduli buah, tapi kulitnya. Apalagi banyak "peminat" yang siap membeli kulit manggis.
Sudah lama sebenarnya kulit manggis diketahui berkhasiat. Meski hanya mengandalkan testimoni atau pengalaman empiris, sudah cukup membuat manggis populer. Meski begitu, untuk kalangan peneliti maupun ahli obat alami, tak cukup "sekadar" kesimpulan empiris menyangkut manfaatnya.
Tak heran, dalam 20 tahun terakhir penelitian dan pemanfaatan tanaman obat terus meningkat, terutama sesudah peristiwa thalidomide di tahun 1950-1960. Saat itu sedikitnya 2.000 bayi lahir dalam kondisi cacat, tanpa memiliki lengan atau tungkai.
Setelah ditelusuri, cacatnya bayi-bayi tersebut diakibatkan saat hamil, ibu mengonsumsi thalidomide, yang mengandung enantiomer sebagai zat penenang. Obat itu pun dinyatakan hanya boleh didapat dengan resep dokter.
Baru pada November 1962, thalidomide ditarik dan pasaran. Sejak saat itulah seruan back to nature dalam bidang kesehatan mulai digencarkan. Di Indonesia, gerakan itu baru mulai "terasa" sepuluh tahun terakhir.
Seluruh Bagian Berkhasiat
Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati melimpah, Indonesia memiliki sumber tanaman herbal yang tiada habisnya. Salah satu tanaman yang berkhasiat obat, yaitu manggis. Tak hanya nikmat disantap sebagai buah segar, manggis juga memiliki sejumlah kemampuan.
Bahkan hampir semua bagian tanaman buah ini menyimpan khasiat. Secara tradisional manggis digunakan sebagai obat sariawan, wasir, dan luka karena kemampuan antiinflamasi atau antiperadangan.
Salah satu paparan tentang khasiat buah manggis diungkapkan oleh Prof. Dr.H.R. Sidik, guru besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran, Bandung. Dijelaskan bahwa tumbuhan bernama Latin Garcinia mangostana ini memiliki batang kayu keras. Cabangnya teratur, berkulit cokelat, dan bergetah. Kulit kayunya dapat mengobati penyakit disentri, diare, dan sariawan mulut.
Untuk mengobati disentri, kulit dua buah manggis dicuci, dipotong-potong, dan direbus dengan empat gelas air sampai volumenya tinggal setengahnya. Rebusan kulit manggis yang sudah dingin dan disaring bisa ditambah madu. Minum dua kali sehari dan lihat hasil pengobatannya terhadap penyakit disentri yang diderita.
"Sama dengan pengobatan penyakit disentri, untuk menyembuhkan diare, tinggal melakukan langkah serupa. Tapi, volume airnya lebih sedikit, hanya tiga gelas," kata anggota Panitia Nasional Pengembangan Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan ini.
Untuk mengobati sariawan, langkah yang dilakukan sama saja dengan prosedur pembuatan ramuan penyembuh diare. Hanya, air rebusan hasil saringan cukup digunakan untuk berkumur kumur. Lakukan tiga sampai enam kali dalam sehari.
Hambat Bakteri
Dalam paparannya, Prof. Sidik juga menjelaskan aspek farmakologis dari tanaman manggis yang diperoleh dari sejumlah penelitian. Kulit buah manggis diketahui mempunyai daya antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri.
"Kulit buah manggis juga bersifat antijamur," ujarnya. Aktivitas antijamur hasil isolasi beberapa xanton (salah satu jenis zat warna pada manggis) yang berasal dari kulit buah manggis dan beberapa derivat mangostin terhadap jamur Fusarium oxysporum
f. sp. Vasinfectum, Alternaria tenuis, dan Drechela oryzae dapat menghambat pertumbuhan semua jamur tersebut.
Telah dilakukan pula penelitian terhadap aktivitas xanton dalam kulit manggis terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antibiotik metisilin. Hasilnya menunjukkan bahwa satu isolate aktif, alfamangostin, yang merupakan salah satu derivat xanton, menghambat pertumbuhan bakteri tersebut dengan MIC sebesar 1,57-12,5 µg/mL.
Penelitian antiinflamasi dari kulit buah manggis dilakukan dengan menggunakan mangostin dari ekstrak etanol 40 persen mempunyai aktivitas penghambatan yang kuat terhadap pelepasan histamin dan sintesis prostaglandin E2 sebagai mediator inflamasi. Ekstrak metanol kulit buah manggis mempunyai efek meredam radikal bebas yang kuat.
Menangkis kanker
Selain itu, ekstrak metanol mangostin dari kulit buah manggis dapat menghambat sel kanker dan menyebabkan apoptosis pada sel kanker payudara serta menghambat produksi spesies oksigen reaktif sebagai radikal bebas. Berdasarkan penelitian tersebut, mangostin dari ekstrak metanol kulit buah manggis mempunyai potensi sebagai kemopreventif terhadap kanker.
Studi terhadap aktivitas antikanker pada enam xanton yang diekstraksi dari kulit buah manggis secara invitro pada sel leukemia manusia diperoleh hasil bahwa semua xanton yang diuji menghambat pertumbuhan sel kanker dan menginduksi apoptosis. Efek terkuat dalam menghambat pertumbuhan sel kanker tersebut dilakukan oleh alfamangostin.
Melihat kandungan kimia yang dimiliki manggis, terutama bagian kulitnya, potensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut cukup besar, baik dalam bidang farmasi maupun bidang lainnya. Beberapa fakta tersebut menjadikan kulit manggis kini mulai menarik minat banyak orang di banyak negara.
Yang terpenting dengan ditemukannya khasiat "ajaib" kulit manggis, diharapkan akan ditemukan obat alami yang lebih efektif mengobati penyakit-penyakit berat yang mematikan, seperti kanker.
Ratu Buah Tropis
Manggis (Garcinia mangostana L.) adalah sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Kepulauan Nusantara. Itulah sebab, banyak pihak yang meyakini buah yang satu ini asli Indonesia
secara fisik, pohon manggis mampu tumbuh mencapai 7 hingga 25 meter. Bentuknya khas dengan kulit berwarna merah keunguan ketika matang, meski ada juga varian yang kulitnya berwarna merah.
Manggis berkerabat dengan kokam, asam kandis, dan asam gelugur, rempah bumbu dapur dari tradisi boga India dan Sumatera.
Buah ini merupakan spesies terbaik dari genus Garcinia. Manggis termasuk buah eksotik yang sangat digemari konsumen, baik didalam maupun luar negeri, karena rasanya lezat, bentuk buah yang indah, dan tekstur daging buah yang putih halus.
Tidak heran, manggis mendapat julukan Queen of Tropical Fruits (ratunya buah-buah tropis).
Asli Jambi, Bukan Malaysia
Kalangan ilmuwan hortikultura dari Indonesia mengungkapkan sebuah fakta baru: buah manggis yang selama ini lebih dikenal sebagai buah asal Malaysia sebenarnya merupakan buah asli Indonesia. Tentu saja ini bukan asal klaim, seperti yang selama ini sering dilakukan oleh negeri jiran itu.
Ketua Masyarakat Ilmuwan Hortikultura Internasional (ISHS), Prof. Dr. Roedhy Poerwanto, MSc, mengungkapkan bahwa hingga saat ini literatur atau bahan bacaan ilmiah yang beredar di seluruh dunia menyebutkan manggis adalah buah Malaysia. Hal itu karena adanya "tetua" manggis yang nama spesiesnya Malaccensis, sehingga diperkirakan dari Malaka atau Malaysia. Padahal, menurut Ketua Perhimpunan Hortikultura Indonesia itu, spesies Malaccensis dan Hombroinina yang menurunkan manggis Indonesia sejak dulu sudah banyak terdapat di Jambi.
Dengan bukti tersebut, tambahnya, buku-buku teks yang menyebutkan manggis buah asal Malaysia perlu diperbaiki dan ke depan harus menyebutkan manggis adalah buah asal Indonesia.
Roedhy menambahkan, para ilmuwan Indonesia telah mengajukan bukti bahwa manggis merupakan buah asli Indonesia dalam simposium internasional tentang buah-buahan tropis dan subtropis ke-4 di Bogor, Jawa Barat, yang diikuti kalangan ilmuwan hortikultura dari seluruh dunia, pada tahun 2008.
Para peserta yang umumnya ilmuwan hortikultura itu menyambut positif bukti-bukti dan penjelasan yang diajukan Indonesia dan ini jelas semakin menguatkan bahwa manggis memang buah asli Indonesia.
Simposium yang diikuti kalangan ilmuwan hortikultura dari berbagai negara tersebut diadakan setiap empat tahun sekali. Tahun 1996 diadakan di Thailand, kemudian pada tahun 2000 di Australia, dan 2004 di Brasil.
Manfaat Kulit dan Isinya
Tak adil rasanya hanya mengupas keunggulan kulitnya dan melupakan isi manggis yang putih berseri. Apa saja khasiat sang ratu buah tropis ini?
Buah Manggis
Sangat menyegarkan, mengandung gula sakarosa, dekstrosa, dan levulosa. Komposisi bagian buah yang dimakan per 100 gram meliputi 79,2 gram air, 0,5 gram protein, 19,8 gram karbohidrat, 0,3 gram serat, 11 mg kalsium, 17 mg fosfor, 0,9 mg besi, 14 IU vitamin A, 66 mg vitamin C, vitamin B (tiamin) 0,09 mg, vitamin B2 (riboflavin) 0,06 mg, dan vitamin B5 (niasin) 0,1 mg. Kebanyakan buah manggis dikonsumsi dalam keadaan segar.
Kulit Manggis
Senyawa xanton hanya dihasilkan oleh genus Garcinia. Di luar negeri kulit manggis sudah dimanfaatkan sebagai suplemen diet, antioksidan, dan antikanker.
• Menurut Dr. Berna Elya, peneliti di Departemen Farmasi Universitas Indonesia, khasiat xanton bukan hanya antioksidan, tapi juga antikanker. Ekstrak kulit manggis bersifat antiproliferasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu, ekstrak ini juga bersifat apoptosis, penghancur sel kanker.
Xanton mampu merawat beberapa jenis kanker seperti kanker hati, pencernaan, paru-paru. Xanton dalam kulit manggis juga ampuh mengatasi penyakit tuberkulosis (TBC), asma, leukemia, serta sebagai antiinflamasi dan antidiare. Diungkapkan Dr. Berna, selain antikanker dan antioksidan, juga mujarab untuk mengatasi jantung koroner dan meningkatkan daya tahan tubuh, terutama bagi pengidap HIV/AIDS.PENELITIAN ILMIAH TENTANG MANGGIS
Manggis dan Xanthone perusahaan memiliki lebih bias, penelitian independen dan studi ilmiah dari yang lain botani dalam sejarah, dan dianggap oleh beberapa ahli untuk menjadi salah satu penemuan paling penting dalam industri kesehatan dan kesejahteraan.
Ilmu pengetahuan modern, pengalaman anekdotal dan klinis, dan obat rakyat sekarang setuju pada penggunaan menguntungkan manggis.
Melalui studi penelitian banyak Manggis, ilmuwan membuktikan bahwa buah ini luar biasa sangat membantu dalam mencegah dan mungkin menghentikan berbagai penyakit seperti kanker, diabetes, penyakit jantung, penyakit Alzheimer, arhtritis dan penyakit kronis lainnya.
Berikut adalah contoh dari studi ilmiah di Manggis.
Penelitian Manggis dan Kanker
Para ilmuwan di Taipei, Republik Cina, menyarankan bahwa E Manggis Xanthone garcinone derivatif memiliki potensi untuk digunakan dalam mengobati jenis kanker tertentu, setelah menunjukkan bahwa E garcinone memiliki efek sitotoksik kuat pada sel-sel kanker hati, lambung dan paru-paru.
ilmuwan Jepang menunjukkan bahwa enam Xanthones dari pericarps dari Manggis semua efek menghambat pertumbuhan ditampilkan pada baris sel leukimia manusia.
Dalam sebuah penelitian yang lebih baru, kelompok yang sama ilmuwan Jepang menemukan bahwa alpha-mangostin akan menjadi kandidat yang baik untuk pencegahan dan treament kanker.
Dalam studi lain, para peneliti manggis di Taiwan, Republik Cina, ditemukan Xanthones sebagai obat potensial untuk kanker setelah menunjukkan mereka untuk menjadi kuat anti-tumor agen.
Di Thailand, para ilmuwan juga menemukan bahwa ekstrak dari pericarp atau kulit dari Manggis memiliki potensi untuk pencegahan kanker kemoterapi.
Di Jepang, para ilmuwan di University of the Ryukyus di Okinawa menemukan bahwa alpha-mangostin, sebuah turunan Xanthone utama dari Manggis, memiliki efek chemopreventive kuat dan menyarankan bahwa paparan lebih lama untuk alpha-mangostin dapat membantu menekan perkembangan tumor.
Mikroba dan Penelitian Manggis
Sri Lanka ilmuwan diekstraksi Xanthones dari kulit akar, kulit batang dan lateks atau kulit manggis dan menemukan bahwa lateks dari Manggis mengandung lebih dari 75% dari Xanthones yang kuat antibakteri, sifat biologi anti-inflamasi, anti jamur dan lainnya.
Mereka menyimpulkan bahwa senyawa ini sangat bioaktif adalah alasan (Manggis) nilai obat Garcinia mangostana di kedokteran adat.
peneliti Jepang menemukan bahwa alpha-mangostin dari Manggis menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap Staphylococcus aureus (Staph), yang "super" dengan strain yang telah menjadi resisten terhadap antibiotik yang sering digunakan banyak seperti penisilin, Flukloksasilin, oksasilin dan bahkan vankomisin. Para ilmuwan menyarankan bahwa alpha-mangostin mungkin menemukan penggunaan farmasi luas.
Sebuah Manggis lebih baru penelitian studi oleh para ilmuwan Thailand pada Staphylococcus aureus resisten methicillin-menunjukkan bahwa Manggis adalah salah satu yang paling efektif ekstrak tanaman obat terhadap bakteri ini.
">Staphylococcus aureus dapat menyebabkan penyakit serius dan mengancam nyawa, seperti meningitis, pneumonia dan septicimia. / p>
Manggis di Thailand peneliti juga mempelajari aktivitas antimycobacterial alpha-mangostin, beta-mangostin dan B garcinone dan menemukan bahwa mereka memiliki efek penghambatan yang kuat terhadap Mycobacterium tuberculosis.
Para peneliti di Singapura meneliti efek Xanthones manggis pada virus HIV-1 dan menemukan bahwa dua Manggis Xanthones, mangostin dan gamma-mangostin, menunjukkan kemampuan untuk menghambat aktivitas protease HIV-1 yang menyebabkan virus akan mampu infeksi .
Studi di Manggis dan LDL
ilmuwan Australia mempelajari efek antioksidan dari mangostin Xanthone,, dan menemukan bahwa melindungi LDL dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas. Ini membantu mencegah pembentukan plak yang menyumbat arteri dan menyebabkan penyakit jantung.
Buah Manggis sebagai Anti-inflamasi
ilmuwan Jepang di Universitas Tohoku menemukan bahwa gamma-mangostin, sebuah Manggis Xanthone derivatif, memiliki efek anti-inflamasi kuat pada sel-sel struktural otak dan menyarankan bahwa ia memiliki potensi dalam membantu dengan kondisi peradangan otak (misalnya, penyakit Alzheimer) .
Para ilmuwan membuktikan bahwa gamma-mangostin menghambat aktivitas COX-2, sebuah enzim yang memainkan peran utama dalam perkembangan kondisi inflamasi.
Dalam studi lanjutan Manggis penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Jepang dari Tohoku University, para ilmuwan menyarankan bahwa gamma-mangostin akan menjadi senyawa lead baru yang berguna bagi pengembangan obat anti-inflamasi.
Penelitian Manggis dan Sistem Saraf Pusat
Dalam studi, para ilmuwan Jepang menemukan bahwa gamma-mangostin merupakan antagonis reseptor 5-HT2A dalam sistem saraf pusat, yang mengindikasikan potensinya dalam membantu dengan depresi dan kecemasan negara-negara lainnya.
Studi Infeksi Kulit
Manggis peneliti di Thailand tanaman obat mempelajari berbagai kemampuan mereka untuk menghambat pertumbuhan bakteri jerawat-merangsang, dan menemukan bahwa Manggis memiliki efek antimikroba terbesar.
Hasil penelitian mereka mengindikasikan bahwa Garcinia mangostana (manggis) memiliki efek penghambatan yang kuat terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, dan mencatat bahwa Manggis akan menjadi kemungkinan menarik sebagai pengobatan alternatif untuk jerawat.Research Studies on Mangosteen
Research on Mangosteen and Cancer
Microbes and Mangosteen Research
Studies on Mangosteen and LDL
The Mangosteen Fruit as Anti-Inflammatory
Research on Mangosteen and the Central Nervous System
Studies on Skin Infections
Mangosteen / Garcinia mangostana L,


Carbohydrate 6-20 g Fat 0.1-1 g Protein 0.6 g Calcium 7-11 mg Phosphorous 4-17 mg Potassium 19 mg Iron 0.2-1 mg Vitamin A 14 IU Vitamin B1 0.03 mg Vitamin B2 0.03 mg Niacin 0.3 mg Vitamin C 4.2-66 mg Mangosteen / Garcinia mangostana L
Deskripsi
Pohon manggis sangat lambat tumbuh, tegak, dengan sebuah mahkota berbentuk piramida; mencapai 20-82 ft (6-25 m) tingginya, telah coklat gelap atau hampir hitam, mengelupas kulit kayu, kulit bagian dalam mengandung banyak kuning, gummy, pahit lateks. cemara itu, sebaliknya, pendek-daun mengintai adalah bulat telur-lonjong atau elips, kasar dan tebal, hijau tua, sedikit mengkilap di atas, kekuningan-hijau dan kusam bawah, 3 1 / 2 hingga 10 dalam (9-25 cm) panjang, 1 3 / 4 sampai 4 di (4,5-10 cm) lebar, dengan mencolok, pelepah pucat. daun baru merah merona.Bunga, 1 1 / 2 sampai 2 (4-5 cm) lebar dan berdaging, mungkin laki-laki atau hermafrodit pada pohon yang sama. Yang pertama adalah dalam kelompok 3-9 di ujung cabang, ada 4 sepal dan 4 bulat telur, tebal, kelopak berdaging, hijau dengan bintik-bintik merah di bagian dalam, luar kekuningan-merah, dan benang sari banyak kepala sari dibatalkan meskipun tidak ada serbuk sari beruang .hermaprodit ini adalah ditanggung secara tunggal atau berpasangan di ujung branchlets muda; kelopak mereka mungkin bermata hijau kekuningan dengan merah atau sebagian besar merah, dan dengan cepat gudang.
Buah, dibatasi oleh kelopak terkemuka di akhir batang dan dengan 4 sampai 8 segitiga, sisa-sisa datar stigma dalam roset di puncak, itu bulat, gelap-ungu sampai merah-ungu dan halus eksternal; 1 1 / 3 untuk 3 dalam (3,4-7,5 cm) di diameter. kulit adalah 1 / 4 sampai 3 / 8 in (6-10 mm) tebal, merah di penampang, ungu-putih di dalam.Ini berisi lateks kuning pahit dan jus, pewarnaan ungu. Ada 4 sampai 8 segmen segitiga salju-putih, juicy, daging lunak (sebenarnya arils benih). Buah mungkin tanpa biji atau memiliki 1 sampai 5 biji sepenuhnya dikembangkan, bulat telur-lonjong, agak pipih, 1 (2,5 cm) panjang dan 5 / 8 inci (1,6 cm) lebar, yang menempel pada daging. Daging sedikit asam dan ringan sampai jelas asam dalam rasa dan diakui sebagai indah lezat dan lezat.
Asal dan Distribusi
Tempat asal manggis tidak diketahui tetapi diyakini Kepulauan Sunda dan Maluku, masih, ada pohon liar di hutan-hutan di Kemaman, Malaya. Corner menunjukkan bahwa pohon mungkin telah pertama kali dijinakkan di Thailand, atau Burma. Hal ini banyak dibudidayakan di Thailand-di mana terdapat 9.700 hektar (4.000 ha) pada tahun 1965-juga di Kamboja, Vietnam selatan dan Burma, seluruh Malaya dan Singapura. Pohon itu ditanam di Ceylon sekitar 1800 dan di India pada 1881. Di sana ia berhasil di 4 daerah terbatas-the Hills Nilgiri, distrik Tinnevelly Madras selatan, distrik Kanya-kumani di ujung selatan semenanjung Madras, dan di Kerala Negara di India barat daya. Pohon ini hanya cukup umum di propinsi Mindanao dan Sulu (atau Jolo) di Filipina. Hal ini jarang terjadi di Queensland, di mana ia telah mencoba berkali-kali sejak 1854, dan kurang terwakili di Afrika tropis (Zanzibar, Ghana, Gabon dan Liberia). Ada buah pohon di rumah kaca di Inggris pada tahun 1855.manggis ini diperkenalkan ke Trinidad dari Royal Botanic Garden di Kew, Inggris, antara 1850 dan 1860 dan buah pertama ditanggung pada tahun 1875. Hal itu sampai ke Zona Terusan Panama dan Puerto Rico pada tahun 1903 tetapi hanya ada beberapa pohon di daerah-daerah, di Jamaika, Dominika dan Kuba, dan beberapa yang tersebar di seluruh bagian lain dari Hindia Barat. Amerika Serikat Departemen Pertanian menerima benih dari Jawa pada tahun 1906 (SPI # 17146). Sebuah balok uji yang besar pohon produktif telah dipertahankan di Lancetilla Eksperimental Stasiun di Tela, Honduras, selama bertahun-tahun. Cukup beberapa pohon didistribusikan oleh United Buah Perusahaan lama telah dilakukan dengan baik di pantai Atlantik Guatemala. Pada tahun 1924, Dr Wilson Popenoe melihat manggis tumbuh di satu lokasi di Ekuador. Pada tahun 1939, 15.000 benih didistribusikan oleh Canal Zone Percobaan Taman untuk berbagai bidang Amerika tropis. Hal ini kemungkinan bahwa hanya relatif sedikit bibit selamat. Hal ini diketahui bahwa banyak yang meninggal selama tahun pertama. Dr Victor Patino telah mengamati pohon manggis berkembang di lokasi pemukiman pertambangan tua di Mariquita, Kolombia, di Lembah Magdalena dan buah-buahan yang dijual di pasar lokal. Dierberger Agricola Ltda, dari Sao Paulo., Termasuk manggis di katalog pembibitan mereka pada tahun 1949.
Meskipun uji coba awal di Hawaii, pohon belum menjadi baik diaklimatisasi dan masih jarang di pulau-pulau. Baik telah itu telah berhasil di California. Ini pertemuan tanah sangat tidak menguntungkan dan iklim di Florida. Beberapa tanaman telah tumbuh untuk waktu dalam wadah di rumah kaca. Satu pohon di lokasi pantai yang sangat dilindungi dan tanah khusus hidup untuk menghasilkan buah tunggal dan kemudian menyerah pada dingin musim dingin.
Meskipun antusiasme Dunia Lama sering diulang-ulang untuk buah ini, tidak selalu dipandang sebagai berharga untuk memproduksi. Di Jamaika, itu dianggap sebagai bagus tapi dibesar-besarkan, tidak sebanding dengan lapangan nanas matang baik atau mangga pilihan.
Varietas
Menurut Corner, buah dari bibit pohon cukup seragam, hanya satu variasi tertentu yang diketahui dan yang ada di Kepulauan Sulu. Buah ini lebih besar, kulit tebal dari biasanya, dan daging semakin asam, rasa lebih jelas. Di Kalimantan Utara, bentuk liar tampaknya hanya 4 karpel, masing-masing berisi penuh biji-dikembangkan, dan ini mungkin tidak unik.
Iklim
manggis adalah ultra-tropis. Itu tidak bisa mentolerir suhu di bawah 40 º F (4,44 º C), atau di atas 100 º F (37,78 º C). bibit Nursery yang menewaskan 45 º F (7,22 º C).
Hal ini terbatas di Malaya ke ketinggian di bawah 1.500 ft (450 m). Dalam Madras itu tumbuh dari 250 sampai 5.000 ft (76-1,500 m) di atas permukaan laut. Upaya untuk membangun itu 200 lintang utara semuanya gagal.
Hal ini biasanya membutuhkan kelembaban atmosfer tinggi dan curah hujan tahunan paling sedikit 50 di (127 cm), dan tidak ada periode panjang kekeringan. Di Dominika, manggis tumbuh di daerah yang mempunyai 80 di (200 cm) dari hujan tahunan diperlukan perawatan khusus, tetapi mereka di lain lokasi dengan 105 dalam (255 cm) dan tanah dengan kapasitas kelembaban-holding yang lebih baik, berkembang.
Tanah
Pohon itu tidak bisa beradaptasi dengan batu kapur dan melakukan yang terbaik di dalam, tanah yang kaya organik, terutama lempung berpasir atau laterit. Di India, spesimen yang paling produktif di lapangan tanah liat yang mengandung banyak materi kasar dan sedikit lumpur. Sandy tanah aluvial yang tidak cocok dan pasir yang rendah dalam humus memberikan kontribusi untuk hasil yang rendah. Pohon itu perlu drainase yang baik dan tabel air harus sekitar 6 ft (1,8 m) di bawah permukaan tanah. Namun, di Zona Terusan, kebun manggis produktif telah dibentuk di mana terlalu basah untuk lainnya buah pohon-di rawa-rawa yang membutuhkan saluran drainase antara baris dan dalam situasi di mana akar itu dimandikan dengan air yang mengalir sepanjang tahun, meskipunfakta bahwa air berdiri di tempat tidur pembibitan akan membunuh bibit.manggis harus terlindung dari angin kencang dan kabut garam, serta tanah salin atau air.
Perambatan
Secara teknis, yang disebut "benih" tidak benar tetapi embrio biji adventif, atau tuberkel hipokotil, karena belum ada pembuahan seksual. Ketika pertumbuhan mulai, menembak muncul dari satu ujung biji dan akar dari ujung lain. Tetapi akar ini singkat-hidup dan digantikan oleh akar yang berkembang di dasar menembak. Proses reproduksi yang vegetatif, ada sedikit variasi alami di pohon-pohon dan buah-buahan yang dihasilkan mereka. Beberapa benih polyembryonic, memproduksi lebih dari satu pucuk. Embrio nucellar individu dapat dipisahkan, jika diinginkan, sebelum tanam.
Karena persentase perkecambahan secara langsung berkaitan dengan berat biji, hanya gemuk, sepenuhnya benih yang dikembangkan harus dipilih untuk ditanam.Bahkan ini akan kehilangan viabilitas dalam 5 hari setelah dihapus dari buah, meskipun mereka layak selama 3 sampai 5 minggu di buah. Benih dikemas dalam ringan dibasahi gambut, lumut sphagnum atau serat kelapa dalam kemasan kedap udara tetap layak selama 3 bulan. Hanya 22% perkecambahan telah terealisasi pada biji arang dikemas dalam tanah selama 15 hari. Perendaman dalam air selama 24 jam mempercepat dan meningkatkan laju perkecambahan. Umumnya, tumbuh terjadi pada 20 hingga 22 hari dan selesai di 43 hari.
Karena akar tunggang, panjang halus dan perkembangan akar lateral miskin, transplantasi ini sangat sulit. Ini tidak boleh mencoba setelah tanaman mencapai 2 ft (60 cm). Pada saat itu kedalaman akar tunggang yang dapat melebihi ketinggian itu.Ada yang lebih besar bibit kelangsungan hidup jika bibit ditanam langsung di baris pembibitan daripada jika pertama tumbuh dalam wadah dan kemudian dipindahkan ke kamar bayi. Tanah pembibitan harus 3 ft (1 m) mendalam, setidaknya. Tanaman muda mengambil 2 tahun atau lebih untuk mencapai ketinggian 12 dalam (30 cm), ketika mereka dapat diambil dengan bola dalam bumi dan berangkat. Berbuah dapat berlangsung di 7-9 tahun dari penanaman tetapi biasanya tidak untuk 10 atau bahkan 20 tahun.
perbanyakan vegetatif konvensional manggis yang sulit. Berbagai metode penyambungan telah gagal.Dan stek-lapisan udara, dengan atau tanpa bahan kimia mempromosikan pertumbuhan, biasanya gagal untuk root atau mengakibatkan cacat, tanaman berumur pendek. Inarching pada batang bawah yang berbeda telah muncul menjanjikan pada ketidakcocokan pertama tetapi kemudian telah terbukti dengan semua kecuali xanthochymus G. Hook. f. (G tinctoria Dunn.) Atau lateriflora G. Bl., Yang kini biasa digunakan di Filipina.
Di Florida, pendekatan sambung telah berhasil hanya dengan menanam benih G. xanthochymus sekitar 1 1 / 4 in (3 cm) dari dasar sebuah bibit manggis dalam sebuah wadah dan, bila stem dari G. xanthochymus bibit telah menjadi 1 / 8 inci (3 mm) tebal, bergabung ke bagian 3 / 16 1 / 4 (5-6 mm) tebal batang manggis pada titik sekitar 4 dalam (10 cm) di atas tanah. Ketika korupsi telah sembuh, bibit G. xanthochymus adalah dipenggal. manggis akan membuat kemajuan yang baik memiliki sistem akar baik tumbuh pada, sedangkan batang bawah G. xanthochymus akan berkembang sangat sedikit.
Budaya
Sebuah jarak 35 sampai 40 ft (10,7-12 m) dianjurkan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Pit 4 x 4 x 4 1 / 2 ft (1,2 x L.2 x l.3 m) disusun paling sedikit 30 hari sebelumnya, diperkaya dengan bahan organik dan tanah lapisan atas dan kiri untuk cuaca. Pohon muda ini diletakkan di tempat yang sangat hati-hati agar tidak melukai akar dan diberi air berat. shading parsial dengan daun palem atau dengan cara lain harus dipelihara selama 3 sampai 5 tahun. petani India saling memberikan makan pohon biasa dengan pupuk kandang lbs baik-membusuk-100 sampai 200 (45-90 kg)-dan makan kacang-10 sampai 15 lbs (4,5-6,8 kg) total per tahun.
Beberapa pohon manggis paling bermanfaat yang tumbuh di tepi sungai, danau, kolam atau saluran di mana akar yang hampir selalu basah. Namun, cuaca kering sebelum mekar waktu dan selama berbunga menginduksi buah set-baik. Dimana situs penanaman lembab tidak tersedia, saluran irigasi harus digali untuk membuatnya mungkin untuk mempertahankan pasokan air yang memadai dan pohon-pohon irigasi hampir setiap hari selama musim kemarau.
Di Malaya dan Ceylon, itu adalah praktek umum untuk menyebarkan mulsa dari daun kelapa atau sekam untuk mempertahankan kelembaban. A 16-in (40-cm) mulsa pohon dipulihkan rumput yang telah mulai dehidrasi di Liberia. Ia telah mengemukakan bahwa cabang-cabang batin kecil akan dipangkas dari tua, pohon yang tidak produktif untuk merangsang bantalan. Di Thailand, pohon dikatakan untuk mengambil 12 sampai 20 tahun untuk buah. Di Panama dan Puerto Rico pohon tumbuh dari biji yang besar dan budaya yang baik yang diberikan telah melahirkan dalam enam tahun.
Musim dan Panen
Pada ketinggian rendah di Ceylon buah matang dari Mei hingga Juli; pada ketinggian yang lebih tinggi, pada bulan Juli dan Agustus atau Agustus dan September. Di India, ada 2 musim berbuah yang berbeda, satu di periode monsun (Juli-Oktober) dan satu lagi dari April sampai Juni. Puerto Rican buah pohon di sinar matahari penuh pada bulan Juli dan Agustus; pohon teduh, pada bulan November dan Desember.
Tanam tidak teratur dan menghasilkan bervariasi dari pohon ke pohon dan dari musim ke musim.Tanaman pertama mungkin 200 sampai 300 buah. Hasil rata-rata pohon dewasa adalah sekitar 500 buah. Hasil panen terus meningkat sampai dengan tahun 30 bantalan ketika tanaman dari 1.000 sampai 2.000 buah dapat diperoleh. Di Madras, setiap pohon yang berumur antara 20 dan 45 tahun telah melahirkan 2.000 sampai 3.000 buah. Produktivitas kemudian menurun secara bertahap, meskipun pohon masih akan berbuah pada usia 100 tahun.
Kematangan adalah diukur oleh perkembangan penuh warna dan lembek sedikit.Memilih dapat dilakukan saat buah sedikit underripe tetapi mereka harus sepenuhnya matang (dikembangkan) atau mereka tidak akan matang setelah memetik. Buah harus dipanen dengan tangan dari tangga atau dengan cara memotong tiang dan tidak diperbolehkan turun.
Menjaga Mutu
Pada kondisi kering, penyimpanan hangat, ditutup, manggis dapat dilaksanakan 20 sampai 25 hari.periode yang lebih lama menyebabkan kulit luar untuk menguatkan dan kulit menjadi kenyal, kemudian, kulit mengeras dan menjadi sulit untuk membuka dan daging berubah kering.
manggis matang baik-baik selama 3 sampai 4 minggu dalam penyimpanan pada suhu 40 º sampai 55 º F (4,44 -12,78 º º C). Ujian di India telah menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk penyimpanan dingin suhu dari 39 º sampai 42 º F (3,89 -5,56 º º C) dan kelembaban relatif 85 sampai 90%, yang menjaga kualitas selama 49 hari. Disarankan bahwa buah dibungkus dengan kertas tisu dan dikemas 25-ke-kotak-in peti kayu ringan dengan padding semakin tinggi. Buah-buahan mengambil sedikit mentah telah dikirim dari Burma ke Britania Raya pada 50 º sampai 55 º F (10 º -12,78 º C). Dari tahun 1927 sampai 1929, pengiriman sidang dibuat dari Jawa ke Belanda pada 37,4 º F (sekitar 2,38 º C) dan buah-buahan disimpan dalam kondisi baik selama 24 hari.
Hama dan Penyakit
Beberapa hama telah dilaporkan. Sebuah ulat daun-makan di India mungkin bisa sama dengan yang yang menyerang tunas-tunas baru di Filipina dan yang telah diidentifikasi sebagai Orgyra sp. dari keluarga tussock ngengat, Lymantridae. Sebuah semut kecil, Myrnelachista ramulorum, di Puerto Rico, berkolonisasi pohon, terowongan ke dalam batang dan cabang, dan merusak pertumbuhan baru. Tungau kadang-kadang deface buah dengan gigitan kecil dan goresan. penuh buah-buahan matang diserang oleh monyet, kelelawar dan tikus di Asia.
Dalam Puerto Rico, hawar benang yang disebabkan oleh jamur, koleroga Pellicularia, sering terlihat di branchlets, dedaunan dan buah-buahan dari pohon di teduh, daerah lembab. Buah dapat menjadi dilapisi dengan anyaman dan hancur. Di Malaya, jamur, Zignoella garcineae, menimbulkan "kanker" pertumbuhan-tuberous di cabang-cabang, menyebabkan fatal sekarat-belakang daun, cabang dan akhirnya seluruh pohon.Kerusakan di penyimpanan disebabkan oleh jamur Diplodia gossypina, sp Pestalotia., Sp Phomopsis., Gloeosporium sp., Dan Rhizopus nigricans.
Masalah fisiologis besar yang disebut "gamboge" dibuktikan dengan mengalir dari lateks ke permukaan luar buah-buahan dan pada cabang-cabang selama periode hujan lebat dan berkesinambungan. Ini tidak mempengaruhi kualitas makan. Buah-cracking dapat terjadi karena penyerapan air yang berlebihan. Dalam buah retak daging akan menjadi bengkak dan lembek. Memar disebabkan oleh kekuatan badai mungkin merupakan faktor penting dalam kedua kelainan. Buah terkena sinar matahari yang kuat juga dapat memancarkan lateks. Manggis yang diproduksi di Honduras sering memiliki kristal-seperti "batu" dalam daging dan mereka mungkin membuat buah benar-benar dimakan.
Makanan Menggunakan
Untuk memilih buah meja terbaik, memilih orang dengan jumlah tertinggi lobus stigma di puncak, karena ini memiliki jumlah tertinggi segmen berdaging dan dengan demikian benih paling sedikit.Nomor selalu sesuai. Manggis biasanya dimakan segar sebagai pencuci mulut. Orang hanya perlu memegang buah dengan ujung-batang ke bawah, mengambil pisau tajam dan memotong sekitar tengah sepenuhnya melalui kulit, lalu angkat dari bagian atas, yang meninggalkan segmen berdaging terbuka di "cangkir" warna-warni-bagian bawah dari kulit buah. Segmen diangkat oleh garpu.
Segmen berdaging kadang-kadang kaleng, tetapi mereka dikatakan kehilangan rasa lembut mereka dalam pengalengan, terutama jika pasteurisasi sebanyak 10 menit.Pengujian telah menunjukkan bahwa yang terbaik adalah menggunakan sirup 40% dan mensterilkan hanya 5 menit. Buah lebih banyak asam yang terbaik untuk melestarikan.Untuk membuat selai, di Malaya, segmen tanpa biji direbus dengan jumlah yang sama gula dan cengkeh sedikit selama 15 sampai 20 menit dan kemudian dimasukkan ke dalam stoples kaca. Di Filipina, yang melestarikan dibuat dengan hanya merebus segmen dalam gula merah, dan biji dapat ditambahkan untuk memperkaya rasa.
Benih kadang-kadang dimakan sendirian setelah mendidih atau memanggang.
kulit buah ini kaya pektin. Setelah pengobatan dengan natrium klorida 6% untuk menghilangkan astringency, kulit dibuat menjadi jelly keunguan.
Makanan Nilai Per 100 g Bagian Edible *
Kalori 60-63
Kelembaban 80,2-84,9 g
Protein 0,50-0,60 g
Lemak 0,1-0,6 g
Total Karbohidrat 14,3-15,6 g
Total Gula 16,42-16,82 g
(Sukrosa, glukosa dan fruktosa)
Serat 5,0-5,1 g
Abu 0,2-0,23 g
0,01-8,0 mg Kalsium
Fosfor 0,02-12,0 mg
Besi 0,20-0,80 mg
Tiamin 0,03 mg
Asam askorbat 1,0-2,0 mg
* Minimum / nilai maksimum dari analisis yang dilakukan di Filipina dan Washington, DC
Phytin (suatu senyawa fosfor organik) merupakan sampai dengan 0,68% pada basis kering-berat.Daging sebesar 31% dari buah utuh.
Penggunaan lainnya
Manggis ranting digunakan sebagai chewsticks di Ghana. Kulit buah mengandung tanin katekin 7 sampai 14% dan rosin, dan digunakan untuk penyamakan kulit di Cina. Hal ini juga menghasilkan pewarna hitam.
Kayu: Di Thailand, semua pohon non-bearing ditebang, sehingga kayu tersedia tetapi biasanya hanya dalam dimensi kecil. Ini adalah coklat gelap, berat, hampir tenggelam dalam air, dan cukup tahan lama. Telah digunakan untuk membuat menangani untuk tombak, juga penumbuk beras, dan bekerja di konstruksi dan cabinetwork.
Obat Kegunaan: Buah kering yang dikirim dari Singapura ke Calcutta dan ke Cina untuk penggunaan obat. Kulit buah diiris dan kering bubuk dan diberikan untuk mengatasi disentri. Dibuat menjadi sebuah salep, itu diterapkan pada eksim dan gangguan kulit lainnya. Rebusan kulit diambil untuk meringankan diare dan sistitis, gonore dan gleet dan diterapkan secara eksternal sebagai lotion astringent. Sebagian kulit yang direndam dalam air semalam dan infus diberikan sebagai obat untuk diare kronis pada orang dewasa dan anak-anak. Filipina menggunakan ramuan daun dan kulit kayu sebagai obat penurun panas dan untuk mengobati sariawan, diare, disentri dan gangguan kencing. Di Malaya, infus daun, dikombinasikan dengan pisang muda dan sedikit benzoin diterapkan pada luka sunat. Sebuah ramuan akar diambil untuk mengatur menstruasi. Sebuah ekstrak disebut batang "amibiasine", telah dipasarkan untuk pengobatan disentri amuba.
Kulit buah secara parsial menghasilkan buah matang sebuah mangostin polyhydroxy-santon disebut derivatif, juga ß-mangostin. Bahwa buah sudah masak berisi santon, gartanin, 8-disoxygartanin, dan normangostin. Sebuah turunan dari mangostin, mangostin-e, 6-di-O-glukosida, adalah depresan sistem saraf pusat dan menyebabkan peningkatan tekanan darah.Food Value Per 100 g of Edible Portion* Calories 60-63 Moisture 80.2-84.9 g Protein 0.50-0.60 g Fat 0.1-0.6 g Total Carbohydrates 14.3-15.6 g Total Sugars 16.42-16.82 g (sucrose, glucose and fructose) Fiber 5.0-5.1 g Ash 0.2-0.23 g Calcium 0.01-8.0 mg Phosphorus 0.02-12.0 mg Iron 0.20-0.80 mg Thiamine 0.03 mg Ascorbic Acid 1.0-2.0 mg DAPATKAN DISKON PALING BESAR HANYA DI TOKO DISKON TERLARIS CEPAT TERPERCAYA www.binmuhsingroup.com
xamthone obati kista rahim www.waralabaxamthone.com
Sabtu, 23 Oktober 2010
Diposkan oleh Bin Muhsin di 17:44 0 komentar
Langganan:
Entri (Atom)
